
Pada akhir bulan Januari kemarin, Penulis memesan Vivo X200 Pro, sebagai upgrade jangka pendek untuk X100 Pro Penulis, yang sebenarnya masih bagus. Mengapa upgrade? Beberapa alasannya antara lain sensor kamera yang lebih modern (walaupun ukurannya sedikit lebih kecil), dan desainnya yang baru serta baterai yang lebih besar. Penulis sebenarnya dari lama sudah tertarik dengan layar quad-curve, dibandingkan curved biasa yang ada di X100 Pro. Selain itu, Penulis melakukan pemesanan dengan trade in, karena selain Penulis punya ponsel yang tidak lagi terpakai, Penulis juga penasaran dengan prosesnya.
Disclaimer: Artikel ini murni hanya ingin membagikan pengalaman Penulis dan tidak bermaksud menjatuhkan pihak manapun. Penulis akan berusaha untuk menjadi se-objektif mungkin.
Proses Pembelian dengan Trade In
Proses pembeliannya sebenarnya sama saja dengan metode pembayaran lain, hanya saja kita diminta untuk memilih model dan IMEI ponsel yang akan ditukarkan.

Selain itu, kita juga diminta untuk mengisi survey tentang kondisi ponsel. Setelah itu, aplikasi akan memberikan estimasi harga ponsel baru kita setelah dipotong dengan harga trade in.

Oke, singkat cerita, Penulis sudah menyelesaikan pembayaran dan sekarang menunggu pengiriman. Sebenarnya cukup deg-degan juga karena ini adalah kali pertama Penulis melakukan trade in, dan tentu saja, Penulis penasaran ingin segera mencoba ponsel barunya.
Kendala Pengiriman / Serah Terima Trade In
Sebenarnya, Penulis cukup apes juga, karena di masa pengiriman, Penulis diwajibkan untuk datang ke kantor untuk berdiskusi tentang pekerjaan. Padahal, biasanya Penulis bisa bekerja dari rumah. Nah, pada tanggal 15 Januari 2025, kurir mengirim pesan ke Penulis bahwa beliau akan datang untuk proses serah terima. Namun sayangnya, karena Penulis tidak ada di rumah, akhirnya Penulis memutuskan untuk reschedule ke tanggal 20. Kurir menyanggupinya.
Nah, singkat cerita, di hari yang sama, diskusi Penulis sudah selesai, sehingga Penulis tidak lagi perlu ke kantor. Akhirnya Penulis melakukan reschedule ulang dari yang sebelumnya tanggal 20, menjadi tanggal 17, dan sekali lagi, sepertinya kurir menyanggupinya.

Sayangnya, pada tanggal 17, tidak ada kejelasan bahwa paket Penulis akan datang. Penulis tidak lagi menerima pesan bahwa akan ada kurir yang datang pada hari tersebut. Dari pihak e-Commerce pun tidak bisa banyak membantu karena selain masih dalam batas estimasi (batas estimasi masih sekitar 1 minggu dari tanggal 17), customer service meng-klaim bahwa mereka tidak punya akses untuk menghubungi mitra trade in (petunjuk: mitra ini juga bekerjasama dengan e-commerce lain, tidak hanya yang sedang Penulis gunakan). Sialnya, sepertinya kurir sebelumnya juga tidak tahu tentang status paketnya, karena beliau tidak sedang ditugaskan di area tempat tinggal Penulis (sepertinya daerah pengiriman mereka dirotasi tiap hari). Akhirnya dengan rasa kecewa, Penulis harus menunggu hingga tanggal 20.

Proses Trade In
Pada tanggal 20 pagi, Penulis mendapatkan pesan lagi bahwa pada hari itu akan ada proses serah terima. Penulis menyanggupinya, dan sekitar pukul 15:20, kurir berpesan bahwa beliau sedang dalam perjalanan ke tempat tujuan.
Setelah sampai, kurir melakukan pengecekan dengan meng-install aplikasi yang digunakan untuk mengecek kondisi ponsel. Pada saat itu, ponsel yang akan Penulis tukarkan sudah Penulis reset. Semua proses berjalan lancar dan tanpa kendala, kecuali pada konfirmasi harga terakhir. Penulis terkejut karena harganya berkurang 50 ribu. Ketika Penulis bertanya mengapa, kurir tidak bisa menjawab dan menyatakan bahwa itu adalah harga dari sistem. Sebenarnya, Penulis cukup kecewa, karena tidak ada cacat fisik ataupun kendala apapun selama pengujian. Namun ternyata tidak sedikit juga orang lain yang mengalami kendala yang sama ketika melakukan proses trade in untuk Samsung S25 series kemarin.
Walaupun kecewa, Penulis akhirnya menyanggupinya dan Penulis membayar sisanya melalui Virtual Account. Proses pembayarannya instan dan konfirmasinya juga otomatis. Setelah pembayaran selesai, kurir menyerahkan ponsel baru Penulis, dan membawa ponsel yang lama, dan proses serah terima telah selesai.

Pesan dan Kesimpulan
Oke, menimbang pengalaman trade in kemarin dan setelah berbincang dengan kurir sembari melakukan pengecekan ponsel, Penulis bisa menarik beberapa kesimpulan (dan pelajaran), diantaranya:
Waktu yang Tidak Fleksibel
Pelanggan tidak punya cara khusus untuk menjadwalkan pengiriman, dan ini sangat mengganggu, terutama untuk barang yang sifatnya pre-order yang ketersediaannya bisa saja lebih awal atau setelah estimasi. Jika lebih awal, tentu saja pembeli senang, tapi tidak semua pembeli akan selalu ada di rumah, bukan?
Sebenarnya, pesan kurir di pagi hari yang menyatakan akan datang untuk serah terima bisa cukup membantu, namun tidak ada jaminan jam berapa proses serah terima akan terjadi. Sebenarnya hal ini bisa dimaklumi karena menurut kurir, proses pengecekan ponsel lama sendiri tidak menentu, paling cepat 30 menit, dan bisa lebih, dan mereka harus merencanakan beberapa pengiriman di hari yang sama.
Poin berikutnya, ketika kita melakukan reschedule, tidak ada persetujuan tertulis antara pihak kurir dan pembeli, sehingga yang tahu hanya kurir yang mengirim pesan dan pembeli saja. Jika seandainya kurir atau admin lupa, maka bisa saja paket Anda tidak terkirim tepat waktu.
Pelacakan yang Kurang Lengkap

Yang lebih mengkhawatirkan adalah proses tracking yang kurang lengkap. Di e-commerce, hanya terdapat tulisan Sedang Dikirim, dan tidak ada informasi lebih lanjut. Semoga saja hal ini bisa diperbaiki ke depannya untuk memudahkan pembeli. Setidaknya, jadwal terakhir kapan paket akan dikirimkan.
Harga di Bawah Pasar
Sebenarnya ini hal yang bisa dimaklumi dan terjadi dimanapun. Proses trade in yang berlaku secara komersial (mis. melalui e-commerce atau pihak pertama seperti Samsung) biasanya akan memasang harga pertukaran di bawah pasar karena mereka perlu mengambil keuntungan. Sebagai gantinya, Anda mendapatkan kenyamanan. Tapi seperti pengalaman Penulis tadi, harga awal hanya bersifat sementara dan bisa berubah (biasanya sih berkurang), dan ini yang cukup membuat kesal.
Nah, sebenarnya jika Anda tidak buru-buru ingin menjual ponsel lama Anda, Penulis lebih menyarankan untuk menjualnya sendiri di online marketplace atau bahkan di konter jual-beli ponsel. Walaupun membutuhkan usaha lebih, biasanya Anda akan mendapatkan harga jual yang lebih masuk akal. Tapi kembali lagi, jika sedang ada promo trade in dengan nilai cashback yang menggiurkan (yang bisa menutup selisih harga pasar), silahkan saja.
Oke, sepertinya itu saja pelajaran yang bisa Penulis ambil dari pengalaman kali ini. Jika Anda seseorang yang memiliki jadwal yang cukup fleksibel dan tidak ingin repot-repot menjual ponsel lama Anda, tentu saja trade in bisa menjadi salah satu alternatif pembayaran. Pada akhirnya, semuanya hanyalah tentang kompromi.
Dan sekali lagi, tujuan Penulis di sini hanyalah berbagi pengalaman, dan Penulis tidak bertujuan untuk menjatuhkan pihak manapun, dan tentu saja Penulis akan senang jika ada perbaikan dalam seluruh proses trade in ini. Oke, seperti biasa, jika Anda punya pertanyaan, silahkan menanyakannya di kolom komentar di bawah. Akhir kata, seperti biasa, terima kasih telah berkunjung, dan sampai jumpa di artikel berikutnya!